logo
 
 
  Indonesia | English  
 
   
    Rexy.jpg
KEHILANGAN ORANG TUA, MENEMUKAN KASIH YESUS.

Nama saya Rexi Tambunan, lahir di Jakarta pada tanggal 12 Mei 1996. Ketika saya berumur 1 bulan keluarga kami pindah ke Aceh Tenggara, tepatnya di Kutacane. Waktu saya berusia 6 tahun papa saya meninggal dengan cara yang tidak wajar yaitu dibunuh oleh tetangga dikampung. Karena saya masih kecil, saya tidak tau masalahnya kenapa papa saya dibunuh. Dalam hati saya “lihat saja nanti kalau saya sudah besar akan ku balas dengan cara membunuh kau,” itu yang timbul dalam hati saya.

    Ketika saya berumur 12 tahun saya baru mengerti mengapa perlakuan mama saya berbeda ketika papa saya meninggal, ternyata dia adalah mama tiri saya. Saya selalu berusaha mencari tau siapa mama kandung saya tetapi tidak pernah bisa menemukan, saya hanya tahu bahwa mama saya orang Manado. Karena sudah lelah dalam pencarian tetapi tetap tidak tahu keberadaan mama kandung saya, akhirnya saya menganggap mama kandung saya sudah meninggal. Dari mama tiri saya, saya punya 3 orang adik, jadi kami 4 bersaudara.

    Setelah itu saya tinggal bersama opung (nenek) saya yang dari papa, karena saya sangat dekat dengan opung dan saya di anggap anak bungsunya sehingga saya di manjakan. Sejak diasuh oleh opung kehidupan saya mulai berubah, saya mulai merokok, minum-minuman keras dan berjudi.  Saya mulai jarang pulang kerumah, mulai bergaul dengan anak-anak nakal dan melakukan perampokan di rumah tetangga. Singkat cerita kehidupan saya sangat hancur.

    Opung saya tidak sanggup lagi dengan kenakalan saya sehingga opung memanggil Bapauda (Pdt Rusman Tambunan) dari Kalimantan Barat untuk tinggal di kampung di Kutacane. Sejak saat itu saya tidak bebas lagi melakukan  kejahatan tetapi saya masih sembunyi-sembunyi untuk merokok, berjudi dan mencuri uang. Suatu ketika perbuatan saya diketahui oleh Bapauda sehingga saya dihajar dan dipukul habis habisan dan saya diikat di pohon coklat dibelakang rumah satu malam. Karena hukuman itu saya berjanji untuk bertobat.

    Pada bulan Maret 2012 ada tim pelayanan dari Yayasan Yasindo, yaitu pak Tan, bu Maria dan pak Jomin Hu datang pelayanan ke Kutacane dan menginap dirumah Bapauda. Bapauda Rusman dulu adalah anak binaan Yasindo juga. Saat itu Pak Jomin ngobrol-ngobrol dengan Bapauda, katanya beliau mencari anak angkat laki-laki, lalu bapauda saya berkata bahwa dia punya keponakan laki-laki yang bernama Rexi. Beberapa bulan kemudian pak Jomin dengan rombongan datang lagi ke Kutacane untuk doa keliling. Setelah selesai pelayanan saya dibawa pak Jomin ke Banda Aceh. Saya tinggal bersama pak Jomin dan keluarganya dan pak Jomin sekaligus menjadi papa angkat saya. Mungkin ini sudah rencana Tuhan dalam hidup saya yang tak pernah terpikirkan oleh saya. 

    Suatu ketika saya mulai punya keberanian untuk melakukan kejahatan, saya mulai mencuri uang dirumah tetapi saya tidak pernah di marahi atau di hajar seperti bapauda lakukan kepada saya. Hal tsb membuat saya tidak kapok dan bahkan saya berani melakukan pencurian diluar, yaitu di salah satu Super Market di Banda Aceh dan saya selalu lolos sampai 3 kali. Saya berpikir mereka tidak tau, rupanya saya bodoh karena dari kampung saya tidak tau bahwa ada CCTV. Tetapi mengapa saya di loloskan yaitu agar saya kembali ke empat kalinya. Ketika saya masuk kembali dan mengambil barang-barang disana, saya sudah di cegat di depan oleh Satpam dan orang tua saya diminta datang untuk menebus saya.

    Tetapi pada waktu itu pak Jomin sedang pelayanan di luar kota, jadi pak Jomin mengirim seorang pengerja di Gereja untuk datang menebus saya dari super market tsb. Esok harinya pak Jomin pulang dan saya di panggil menghadap papa dan ibu saya. Saya menangis ketakutan dan saya berpikir bahwa saya akan di usir dari rumah, tetapi.....apa yang terjadi?? Saya di peluk oleh papa dan ibu saya, disitu saya mencucurkan air mata yang tidak bisa berhenti. Mengapa ketika saya berbuat kesalahan saya tidak pukul dan di hajar, malah saya dirangkul dan itu pertama kali saya merasakan pelukan seorang bapak dan seorang ibu, lalu saya di doakan. Saya menangis minta ampun kepada Tuhan atas apa yang sudah saya perbuat lalu saya mengambil komitmen untuk bertobat dan berubah.

    Setelah saya mengambil keputusan untuk ikut Yesus, kehidupan saya sangat jauh berbeda. Setelah saya lulus dari SMK papa meminta saya mencari Universitas yang saya minati dan papa berkata “ambil saja jurusan tata boga” karena pada waktu SMK saya mengambil jurusan tata boga, tetapi saya berkata kepada papa bahwa saya mau jadi Pendeta. Papa saya tanya apa saya serius dan papa menyuruh saya berdoa dan memikirkannya kembali, tetapi berulang ulang saya berkata bahwa saya mau jadi Pendeta / Hamba Tuhan.

    Saya sendiri tidak tau mengapa saya ingin melayani Tuhan dan akhirnya papa saya menyetujuinya. Ketika kami liburan keluarga ke Solo dan setelah papa diskusi dengan mami Maria, maka saya didaftarkan di STT INTHEOS dengan bantuan kakak rohani, bang Hendri Winata anak Yasindo yang sedang kuliah di STT Intheos juga. Saat ini saya sudah masuk semester 7 dan tahun depan saya Wisuda. 
Saya percaya itu semua bisa terjadi karena anugerah dan kemurahan Tuhan bagi saya untuk bisa kuliah di Sekolah Teologia. Walaupun masa lalu saya hancur dan saya harus kehilangan kedua orang tua saya dan saya mengalami proses yang sangat menyakitkan, dan dulu saya belum bisa mengampuni pembunuh papa kandung saya, tetapi ketika saya mulai mengampuni dan mendoakan mereka, banyak sekali kebaikan Tuhan yang saya alami. 

    Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang sudah memakai hamba-hambaNya untuk menolong saya. Terima kasih kepada bapauda Rusman Tambunan, papa Jomin Hu dan juga YASINDO dan Mami Maria dan Papi Tan. Tuhan Yesus memberkati dan membalaskan orang-orang yang selalu mendukung dan mendoakan saya. God bless.      

       
 
 
    Kembali